Senin, 27 Februari 2012

Senja (part 2)

Keesokan harinya, Mahesa menepati janjinya. Ia kembali mengunjungi Senja. Ia bahkan berangkat lebih pagi dari biasanya. Jam tujuh ia sudah tiba di rumah sakit dan langsung menuju kamar Senja untuk menyuapinya sarapan, mengajaknya berbicara meskipun selalu dibalas dengan diam, menemaninya menggambar dan mencoret-coret dinding dan bercerita banyak hal padanya.
Dan malam hari setelah selesai bertugas dan memeriksa keadaan pasien-pasien lain, Mahesa kembali ke kamar Senja untuk menyuapinya makan malam.
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, hingga akhirnya setengah tahun terlewati, Mahesa terus merawat Senja. Dokter, perawat, koki dan seluruh pekerja di rumah sakit tersebut telah hafal rutinitas baru Mahesa tersebut.
Dan tak peduli walau Senja tak pernah membalas semua ocehannya, Mahesa terus mengajaknya berbicara dan menceritakan segala hal yang dialaminya pada Senja yang tetap diam menggambar dan mencoret-coret dinding. Mahesa bahkan membelikan spidol warna-warni untuk Senja dan terkadang ia ikut menggambar di dinding bersama Senja. Mencoret-coret dan menghias dinding kamar Senja dengan berbagai lukisan abstrak. Dan dimalam hari, Mahesa takkan pulang meninggalkan Senja sebelum gadis tersebut terlelap.
***
“Senja, kucing tetanggaku baru saja melahirkan. Anaknya lucu-lucu sekali. Kau suka kucing? Menurutku kucing itu sangat lucu dan menenangkan,” kata Mahesa sambil tangannya menyuapi Senja. Mahesa telah selesai bekerja dan seperti biasanya, ia menemani Senja dan menyuapinya makan malam sambil bercerita berbagai hal.
Senja membuka mulutnya dan membiarkan Mahesa menyuapinya. Mahesa tersenyum. Mangkuk berisi makanan diletakkannya di pangkuannya kemudian tangan kirinya bergerak membelai rambut panjang Senja dengan lembut.
Tiba-tiba saja, Senja mengambil mangkuk di pangkuan Mahesa. Mahesa yang kaget tak sempat bertindak apapun. Kini makanan berpindah ke tangan Senja. Mahesa berpikir Senja akan melempar dan membuang makanan tersebut ke lantai atau apapun semacamnya yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang sakit jiwa lainnya. Namun ternyata Senja malah menyendokkan makanan tersebut dan mengarahkannya pada Mahesa. Ia ingin menyuapi Mahesa.
Mahesa tersenyum kemudian ia membuka mulutnya membiarkan sendok yang dipegang Senja memasuki mulutnya dengan membawa serta makan malam Senja. Mahesa mengunyah makanan tersebut sambil terus menatap Senja. Senja balas menatapnya. Dan sesaat kemudian ia tersenyum, Senja tersenyum. Senyuman pertama sejak Mahesa bertemu dengannya. Senyuman yang sangat indah, sangat cantik.
Mahesa menelan makanan di mulutnya dan detik berikutnya ia terdiam. Menikmati pemandangan di depannya. Menghayati senyuman di hadapannya. Senyuman Senja. Senja yang kini menjadi bagian hidupnya. Senja yang kini merupakan alasannya menjalani hari. Senja yang kini tak pernah bisa berhenti ia pikirkan. Ia ingin selamanya dapat melihat senyuman itu.
Dan di tengah keheningan, Mahesa membuang jarak di antara mereka. Mendekap Senja dengan segenap harapan. Berlanjut dengan dirinya mencium lembut Senja dalam kehangatan. Bersaksikan langit malam yang menatap tanpa suara. Seolah takut jika semua bukanlah nyata dan akan menghilang sesaat memejamkan mata.
“Aku mencintaimu Senja.”
***
“Dokter Mahesa,” panggil salah seorang perawat. Mahesa menoleh. Langkahnya terhenti. Perawat tersebut segera menghampiri Mahesa, sedikit tergesa.
“Ada seorang ibu yang menunggu anda di ruang tunggu.”
Mahesa mengernyitkan sebelah alisnya, “Siapa?”
“Dia sedang mencari anak perempuannya yang telah lama hilang. Dia sudah mencari kebanyak tempat bahkan keluar negeri. Mungkin anda harus bertemu dengannya, dia berkata mungkin anaknya ada di sini.”
“Baik, saya segera kesana.”
Mahesa berjalan menyusuri lorong menuju ruang tunggu. Sesampainya di sana, Mahesa melihat seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan bersama seorang pemuda berusia sekitar awal 30 tahunan tengah duduk gelisah di sofa ruang tunggu.
Mahesa lalu berjalan mendekati mereka dan memperkenalkan diri sebagai dokter di rumah sakit tersebut. Kedua orang tersebut pun ikut berdiri dan memperkenalkan diri mereka. Ibu Ana, wanita tersebut dan pemuda yang merupakan anak sulungnya pun menceritakan pada Mahesa bahwa mereka tengah mencari anak perempuan Ibu Ana yang sudah dua tahun menghilang.
Felisia Silvitri, gadis berusia 22 tahun yang merupakan seorang penulis lepas di berbagai Koran dan majalah telah diculik oleh oknum perdagangan wanita. Oknum tersebut berhasil ditangkap, namun ia mengaku bahwa Felisia telah kabur.
Dua tahun Bu Ana mencari anaknya ke berbagai tempat. Bahkan ke luar negeri. Tak pernah ia berhenti mencarinya. Tak pernah ia putus asa meskipun tak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan anak perempuannya tersebut. Namun ia tetap meyakini bahwa anaknya masih hidup saat ini.
“Ada banyak gadis berusia 20an di sini, ibu bawa foto anak ibu? Mungkin kami bisa mencarikannya.”
“Ada, saya selalu membawa fotonya kemana pun,” Bu Ana menyerahkan sebuah foto seorang gadis pada Mahesa. Wajah Bu Ana terlihat lelah, tapi semangat untuk mencari anaknya sangat jelas terlihat.
Mahesa menerima foto tersebut dan terkejut saat melihat siapa gadis pada foto tersebut. Senja. Gadis tersebut adalah Senja. Tak salah lagi.
“Sepertinya ibu telah menemukan anak ibu,” Mahesa mengembalikan foto tersebut kepada Bu Ana sambil tersenyum. Bu Ana dan anak sulungnya terkejut luar biasa. Pencarian mereka selama ini tak sia-sia.
Mahesa kemudian mengajak Bu Ana dan pemuda tersebut menemui Felisia, nama asli Senja. Begitu melihat anaknya, Bu Ana segera memeluk dan menciumnya dengan haru. Air mata tak lagi dapat ia tahan tatkala ia melihat anak yang selama bertahun-tahun dicarinya. Anak sulungnya pun ikut menangis terharu dan ikut memeluk Felisia.
***
“Terimakasih banyak dokter, sungguh saya amat berterimakasih pada anda,” berkali-kali Bu Ana berterimakasih pada Mahesa. Kebahagiaan jelas terpancar dari matanya.
“Tak apa bu, ini sudah merupakan kewajiban saya. Semoga mental dan keterguncangan Felisia cepat pulih kembali.”
“Iya, amin. Terimakasih sekali lagi dokter. Maaf telah banyak merepotkan. Saya rencananya akan membawa Felisia berobat keluar negeri.”
“Luar negeri? Kenapa tidak tetap disini?” Mahesa terkejut mendengar ucapan Bu Ana.
“Saya akan menyusul suami saya yang bekerja di luar negeri dan saya dengar ada rumah sakit jiwa yang sangat bagus disana.”
“Ehm, saya mengerti. Semoga Felisia cepat sembuh di sana ya Bu.”
“Iya, terimakasih dokter. Saya duluan ya,” pamit Bu Ana sambil menggandeng Felisia menuju pintu keluar.
Mahesa melambaikan tangan sambil menatap kepergian Felisia. Kepergian Senja.
***
Lima tahun berselang setelah Bu Ana menemukan anak perempuannya, seorang penulis booming di tengah masyarakat. Setelah sukses dengan bukunya yang menjadi best seller di seluruh negeri, kini masyarakat mulai menguak cerita dirinya yang pernah diculik seorang oknum perdagangan wanita dan akhirnya mengalami keterguncangan mental selama kurang lebih tiga tahun.
Felisia Silvitri, sang penulis, kini berhasil bangkit dari keterpurukannya, bangun dari mimpi buruknya. Tiga tahun mengalami keterguncangan mental akhirnya berhasil ia lewati. Ibunya selalu menjaganya dan tak pernah lelah menemaninya hingga akhirnya ia pulih dari keterguncangan.
Setelah jiwanya pulih, Felisia pun akhirnya memberanikan diri membukukan karya tulisnya. Selama ini ia hanya mengirimkan hasil karyanya ke Koran atau majalah. Setelah itu, ia juga membuat buku tentang perdagangan wanita yang akhirnya berhasil menjadi best seller. Ia menuangkan seluruh pengalamannya selama diculik dan diperdagangkan hingga akhirnya membuatnya gila. Felisia ingat seluruh kejadian penculikan tersebut, namun ia sama sekali tak sadar saat jiwanya mulai terguncang.
Felisia sama sekali tak dapat mengingat dimana saja ia berada dulu, bersama siapa, atau apa yang dia lakukan. Tapi ada satu sosok yang muncul disetiap ia memejamkan mata. Sosok yang selalu hadir dalam mimpinya. Sosok yang tak dikenalnya, namun begitu dirindukannya. Sosok yang bahkan ia tak tahu nyata atau hanya khayalannya.
***
Lima tahun berlalu setelah salah satu pasien di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Palembang berhasil ditemukan oleh keluarganya. Pasien tak dikenal yang akhirnya kini berhasil menjadi seorang penulis buku ternama.
Banyak orang kini menjadi penggemar karya tulis pasien tersebut. Banyak orang kini menjadi pembeli dan pembaca buku-buku yang dihasilkannya. Dan salah satu dari mereka adalah seorang dokter muda di rumah sakit tersebut. Rumah sakit jiwa tempat dulu keluarga pasien tersebut menemukannya.
Dan sekarang, dokter tersebut duduk di bawah salah satu naungan sebuah pohon di halaman rumah sakit tersebut. Angin bertiup membelai dedaunan. Mengajaknya bermain-main diudara sebelum akhirnya menghempaskannya ke tanah, remuk terinjak dan kemudian bersatu dalam dekapan debu.
Dokter tersebut menggenggam salah satu buku kumpulan puisi pasien tersebut. Membukanya pada halaman 165. Halaman yang tak pernah lagi berpindah. Halaman yang telah berkali-kali ia lihat. Halaman yang tak pernah bosan ia baca. Halaman 165.

SENJA
Karya Felisia Silvitri

Ia memanggil dengan sebutan senja
Menatap dalam peluk bayang jingga
Sosok mimpi yang begitu kurindukan
Yang berdiri diantara kenyataan dan khayalan

Ia berdiri. Memandang langit yang merah merona. Memandang matahari yang berucap sampai jumpa. Dan kepada senja yang berada di hadapannya, ia berbisik perlahan.
“Aku ada, aku nyata, dan aku akan selalu mencintaimu Senja. Selalu.”


Yak! Itu dia cerpen pertama gw. Moga menghibur ya :D
Oh iya, Sebenernya nama Felisia Silvitri itu nama samaran gw, hehe. Nama akun fb kloningan gw. Tapi tentu gw ubah2 dikit biar lebih manusiawi -.-v
Kalo nama samaran gw itu Felixia Silvitri. Cuma beda di s dan x sih.
Dan nama itu sebenernya gw ambil dari nama latin kucing, Felis silvestris catus, soalnya gw termasuk pecinta kucing.
Dan kenapa gw pilih tempatnya di Palembang? Karena gw penggemar berat mpek mpek, makanan khas palembang. Selain itu, nomer 165 itu sebenernya tanggal lahir gw, 16 mei :3

Senja (part 1)

Cerpen pertama gw. Baru kali ini gw bikin cerpen dan berhasil selesai. Biasanya pasti stuck di tengah2. Tapi maklum aja ya kalo jelek n bahasanya belibet2. Sekali lagi gw kasih tau, ini cerpen pertama gw. Cerpennya gw bagi 2 part biar g kepanjangan. Judulnya Senja. Kenapa gw kasih judul senja? Karena dari kecil gw suka banget ma yang namanya senja. Gw suka banget liat perpaduan warna senja. pencampuran jingga, biru n soft pink. Cantik.
Oh ya, right!
Langsung ja, dan ini lah cerpen pertama gw, silahkan membaca :)


SENJA

Mahesa, seorang dokter muda di sebuah rumah sakit jiwa ternama di daerah Palembang, berjalan perlahan menyusuri lorong. Dibelakangnya, asistennya mengekor sembari membacakan jadwal merawatnya yang tertera pada selembar kertas diatas papan jalan yang terus didekap sang asisten.
“Pasien baru, seorang gadis, berumur sekitar awal 20an. Dia tak memiliki relative dan tak ada yang mengenalnya. Ia ditemukan warga berjalan tanpa arah di sekitar jembatan Ampera. Sama sekali tak dapat diajak berbicara dan tak memiliki ekspresi. Diduga dia adalah korban trauma pemerkosaan.”
“Dimana dia sekarang?”
“Kamar 165.”
Setelah mengangguk tanda mengerti pada penjelasan asistennya, Mahesa berjalan menuju kamar 165, tempat seorang pasien baru yang akan diperiksanya. Sesampainya di ruang yang dituju, perlahan Mahesa membuka pintu ruangan.
Terlihat isi ruangan yang sederhana, nyaris kosong. Selain dinding putih polos dan lantai keramik yang juga putih, hanya ada sebuah ranjang single size di samping jendela kecil berjeruji yang menghantarkan sinar senja kedalam ruangan. Di atas ranjang tersebut, duduk seorang gadis yang menekuk kakinya dan memeluknya erat di dada. Wajahnya tak lepas memandang jendela yang mengarah ke halaman samping rumah sakit. Siluet bayangannya berpeluk jingga dari matahari sore yang bagai menatapnya, seolah enggan mengucap selamat tinggal dan membiarkan bulan menggantikan posisinya.
Mahesa beranjak memasuki ruangan dan menghampiri gadis tersebut. Perlahan dia duduk di sisi ranjang, di samping gadis tersebut.
Ia bergeming, sedikitpun tak terusik kehadiran Mahesa, gadis itu terus memandang keluar jendela. Memandang langit, memandang awan, memandang rona merah senja. Senja. Itulah yang terukir jelas di pikiran Mahesa saat ia menatap gadis itu. Cantik, gadis itu sangat cantik. Seperti senja. Dan juga seperti senja yang merupakan waktu kematian matahari, gadis itu memiliki mata yang redup, tak berbinar, tak hidup.  Seperti senja.
***
Pekat menyelimuti bumi. Bersama bulan yang berjubah cahaya emas, bintang-bintang menggenggam langit malam. Mahesa melepas jas dokternya. Tugasnya telah selesai dan sekarang waktunya ia pulang ke rumah. Dengan lelah ia menyusuri lorong rumah sakit. Terbayang rutinitasnya setiap hari selesai bekerja di rumah sakit tersebut. Mandi, memasak makan malamnya sendiri, makan sambil menonton televisi kemudian bersiap tidur dan bangun keesokan paginya untuk kembali berangkat kerja di rumah sakit. Selalu begitu.
Sebenarnya Mahesa adalah anak seorang pengusaha kaya. Ditambah dengan kecerdasan dan wajah tampan perpaduan sempurna Indonesia dan Belanda, Mahesa bisa menjadi apapun yang dia inginkan. Tak harus menjadi seorang dokter di rumah sakit jiwa. Namun, karena kematian adik perempuannya sepuluh tahun yang lalu, Mahesa bertekat menjadi seorang dokter kejiwaan.
Hafa, adik Mahesa, adik satu-satunya, adik kesayangannya, meninggal bunuh diri sepuluh tahun yang lalu ketika ia mengalami gangguan kejiwaan.  Tak ada yang tahu pasti apa yang telah menyebabkan Hafa mengalami gangguan kejiwaan, tak ada petunjuk mengapa mentalnya terguncang. Dan itu jelas membuat Mahesa terpukul. Ia bertekat untuk menyelamatkan orang-orang seperti Hafa, mengobati jiwa orang-orang seperti Hafa. Orang-orang yang terkapar, namun tak berdarah. Tetapi jauh didalam, sesungguhnya mereka tengah sekarat.
Sret sret
Sebuah suara membuyarkan lamunan Mahesa. Suara goresan suatu benda. Mahesa menengok kearah pintu di samping lorong tempat dia berdiri saat itu. Suara itu berasal dari sana. kamar 165. Kamar Senja. Ya, lepas dari pertemuan dengan pasien barunya tersebut, Mahesa memanggilnya Senja. Apa yang dilakukannya malam-malam begini?
Perlahan Mahesa membuka pintu tersebut dengan kunci universal yang dimilikinya. Sebagai seorang dokter utama, ia memiliki sebuah kunci universal yang dapat membuka seluruh pintu-pintu kamar pasien. Setelah pintu terbuka, perlahan Mahesa melangkah memasuki ruang di baliknya. Suasana remang, Satu-satunya penerangan berasal dari cahaya bulan yang menerobos masuk melalui jendela berjeruji.
Di atas tempat tidur, Senja duduk sembari menggoreskan sesuatu di tembok. Mahesa mendekat kemudian ikut duduk tepat di samping Senja. Dapat dilihatnya Senja mengenggam sebuah pulpen hitam di tangannya. Mahesa teringat tadi siang asistennya kehilangan pulpennya, sepertinya itu pulpen milik asistennya. Mungkin terjatuh saat tadi ia memasuki kamar Senja untuk pemeriksaan.
Senja terus menggoreskan pulpen tersebut di dinding. Menggambar dan mencoret-coret tanpa sedikitpun tergubris pandangan Mahesa yang kini memperhatikannya.
“Senja?” panggil Mahesa pelan. “Boleh aku memanggilmu Senja?”
Tak ada jawaban. Senja masih sibuk mencoret-coret dinding dengan pulpen temuannya. Pandangannya lurus menatap hasil karyanya. Di sisinya Mahesa tak henti memandang Senja. Ia ingin tahu apa yang telah merusak mentalnya, melukai jiwanya serta membunuh senyumnya. Ia ingin tahu apa yang sedang diarungi pikirannya. Dan yang terpenting, ia ingin melindunginnya. Entah mengapa padahal mereka baru bertemu hari itu. Namun ada perasaan kuat di dalam dirinya bahwa ia ingin menolong gadis tersebut. Meski ia tak mengenal gadis itu sama sekali. Bahkan namanya ia tak tahu.
Trek. Tak sengaja Senja menyenggol nampan di sisi ranjang. Sesaat pandangan Mahesa teralih dari Senja. Dilihatnya nampan berisi makanan yang masih utuh sama sekali. Diraihnya nampan tersebut.
“Kau tak makan sama sekali?” Tanya Mahesa. “Kenapa? Nanti kau sakit loh. Ayo makan,” Mahesa menyendokkan makanan tersebut ke Senja namun ia menghindar dan malah menciptakan jarak dengannya.
“Kau tak lapar?” Mahesa menjauhkan sendok dari Senja. Senja tetap diam sambil terus mencoret-coret dinding.
“Kau tak lapar? Aku saja sangat kelaparan sekarang. Ngomong-ngomong, aku sebenarnya belum pernah loh mencicipi makanan rumah sakit ini. Agak mengherankan juga padahal aku adalah dokter utama disini. Aku selalu ingin cepat-cepat pulang setelah tugasku selesai,” oceh Mahesa, tak peduli walau yang dilakukannya hanya pembicaraan satu arah karena Senja terus sibuk mencoret-coret dinding dan tak mengindahkannya sama sekali.
“Boleh ku cicipi sedikit? Jujur saja aku sangat kelaparan saat ini,” tanyanya meminta izin walau ia tahu Senja takkan berbicara sedikitpun juga. Setelah meminta izin, Mahesa langsung menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya. Perlahan ia mengunyah makanan tersebut dan sesaat terkejut dengan rasanya.
“Wuah, ini enak sekali,” serunya kaget. “Aku tak tahu kalau ternyata koki rumah sakit ini sangat pintar. Tahu begini, aku minta saja satu porsi untuk ku bawa pulang dari pada aku harus repot-repot memasak.”
“Senja, kau sungguh tak mau makan? Ini benar-benar enak, kau harus mencobanya juga,” Mahesa kembali mencoba menyendokkan makanan tersebut kepada Senja. Kali ini Senja terdiam, bahkan tangannya yang sedari tadi sibuk juga berhenti. Mahesa menunggu Senja dengan sendok terangkat mengarah pada Senja. Perlahan Senja membuka mulutnya. Mahesa tersenyum dan dengan lembut ia menyuapi Senja.
“Bagaimana? Enak bukan? Kau mau lagi?” Kembali Mahesa menyodorkan suapan pada Senja. Dan kembali Senja membuka mulutnya membiarkan Mahesa menyuapinya. Terus hingga akhirnya makanan tersebut tandas.
“Apa ku bilang? Makanan ini enak sekali kan?” ujar Mahesa. “Sudah jam 9, aku harus kembali,” Mahesa menatap arloji di pergelangannya kemudian beranjak berdiri dari ranjang tersebut.
“Aku akan mengunjungimu lagi besok, aku janji. Selamat malam Senja,” ucap Mahesa sambil berjalan menuju pintu dan menutupnya.
Sepeninggal Mahesa, Senja kembali mencoret dinding disampingnya. Tidak, bukan mencoret, menulis. Ia menuliskan sebuah kata pada dinding tersebut. Senja. 

Sabtu, 25 Februari 2012

Kamu dan Aku

Kamu pagi aku senja
Kamu terbit aku tenggelam
Kamu cemerlang aku menghilang

Kita adalah cahaya
Kamu yang semakin menyala
Dan aku yang perlahan tiada

Hujan

Hitam yang menangis
Berdarah dan mengalir
Di antara hijau yang gugur
Di atas merah yang patah

Senin, 13 Februari 2012

Duka Dalam Kenyataan

Ada kabut yang menyelimuti
Duka menatap realita
Aku rindu mimpi
Dimana aku dapat menahannya
Jangan bangunkan aku
Jangan sadarkan aku
Biarkan aku melihat harapan
Meski harus mati dengan kebohongan

Jumat, 10 Februari 2012

Sebuah Kisah Rembulan


Bulan yang mendekap bumi dalam bayangan
Bulan yang terisak dari kejauhan

Hujan berdusta
Dengan berkata bulan baik-baik saja
Sesungguhnya,
Di balik jubah cahaya
Ada air mata yang terjatuh tanpa suara

Bulan yang menatap bumi
Bulan yang mencintai bumi
Namun mencoba merengkuhnya
Sama dengan mencoba membunuh dunia

Akhir

Tangis matahari memecah keheningan
Bulan menatap berpeluk kegelapan
Dan di tengah segala yang terjadi
Bumi mati dalam senandung elegi

Inilah akhir kisahnya
memang tidak bahagia
Karena ini bukanlah cerita
Ini nyata
Sebuah realita

Dan dalam jerat kebisuan
Semesta menutup buku perjalanan
Halaman terakhir tanpa penjelasan
Halaman terakhir penuh akan penyesalan